Tanggal 2 Mei ditetapkan sebagai Hari Pendidikan Nasional oleh pemerintah Republik Indonesia melalui Kepres 316 Tahun 1959 tidak terlepas dari bentuk kepedulian pemerintah akan pentingnya pendidikan di Negara ini sekaligus dilatarbelakangi sosok Ki Hajar Dewantara yang memiliki jasa luarbiasa di dunia pendidikan di Indonesia. Dengan semboyannya yang terkenal “Ing ngarso sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani, KiHajar Dewantara mengajarkan arti/hakekat seorang pemimpin yang sebenarnya. Semboyan ini bertujuan menciptakan sosok pemimpin yang disegani dan berwibawa serta mampu menempatkan diri dimanapun berada. Setiap kita adalah pemimpin, minimal menjadi pemimpin diri sendiri. Ki Hajar Dewantara mengajarkan kepada bahwa pemimpin itu adalah teladan, Teladan yang baik yang patut digugu dan ditiru.
Dalam dunia pendidikan, ada banyak pemimpin. Di level dasar, ada guru, Kepala Sekolah, Pengawas dan seterusnya. Pertanyaannya adalah, apakah pemimpin di dunia pendidikan sudah menjadi teladan ? Sudahkah menyadari dan memahami filosofi yang diajarkan Ki Hajar Dewantara serta mempraktekkannya? Atau apakah semboyan Ing ngarso sung Tolodo , Ing Madyo Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani adalah sekedar semboyan yang hanya diingat pada saat 2 Mai setiap tahunnya?
Dunia pendidikan belum sepenuhnya pulih dari pandemi covid 19 . Proses belajar mengajar daring selama pandemi cukup melelahkan dan berdampak banyak pada tata kehidupan kita. Namun hidup harus berjalan terus. Ketertinggalan dan kekurangan harus segera dipulihkan.
Dalam konteks ini perlu pemimpin yang teladan. Dengan keteladanan, kita akan cepat bangkit dan pulih. Guru yang menjadi teladan akan memotivasi siswa untuk belajar lebih giat. Kepala Sekolah yang menjadi teladan, akan memotivasi guru untuk lebih baik dan seterusnya. Makna semboyan dari Ki Hajar Dewantara menjadi acuan untuk menjadi teladan dalam memimpin pemulihan.
Disisi lain, Merdeka Belajar sebagai program kebijakan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Riset dan Tekhnolgi yang dicanangkan Menteri Nadiem Anwar Makarim perlu disikapi dengan cerdas dengan mempersiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan implementasi kurikulum merdeka. Merdeka Belajar bukanlah visi yang baru dalam pendidikan Indonesia. Ki Hadjar Dewantara (KHD), Bapak Pendidikan Indonesia, menyatakan dengan tegas bahwa kemerdekaan adalah tujuan pendidikan sekaligus paradigma pendidikan yang perlu dipahami oleh seluruh pemangku kepentingan. KHD menyatakan bahwa kemerdekaan memiliki makna yang lebih daripada kebebasan hidup. Yang paling utama dari kemerdekaan adalah kemampuan untuk “hidup dengan kekuatan sendiri, menuju ke arah tertib-damai serta selamat dan bahagia, berdasarkan kesusilaan hidup manusia https://pspk.id/merdeka-belajar-pspk/ Tepat memang thema peringatan Hari Pendidikan Nasional Tahun 2022, yakni : “Pimpin Pemulihan, Bergerak untuk Merdeka Belajar”. Untuk mewujudkannya, Ki Hajar Dewantara mengajarkan kita sebagai pemimpin yang teladan. Pemimpin teladan adalah yang menjadi contoh yang baik, memberi inspirasi dan motivasi, serta memberi reward dan punishment bagi yang layak menerimanya. Selamat Hari Pendidikan Nasional.

Penulis : Efriyanti Harefa S.Pd (Perencana di Dinas Pendidikan Kota Payakumbuh)
